
Flip Globe | 19 Mei 2026
By : Anonim
Thailand adalah salah satu produsen plastik terbesar di Asia Tenggara. Industri petrokimia dan pengolahan plastiknya sudah berkembang pesat selama puluhan tahun, didukung oleh infrastruktur pelabuhan yang baik dan jaringan distribusi yang efisien ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tidak heran kalau banyak pelaku UMKM dan importir kecil Indonesia yang mulai melirik Thailand sebagai sumber bahan baku maupun produk plastik jadi.
Tapi cara impor plastik dari Thailand tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada proses yang harus diikuti, dokumen yang wajib disiapkan, dan metode pembayaran yang perlu dipahami agar transaksi berjalan lancar tanpa biaya yang membengkak di tengah jalan.
Sebelum memulai proses impor, penting untuk memahami dulu produk apa yang paling banyak tersedia dan relevan untuk kebutuhan bisnis kamu. Thailand mengekspor berbagai jenis produk plastik ke Indonesia, dan masing-masing punya segmen pasar yang berbeda.
Jenis produk ini paling banyak dicari oleh pelaku usaha yang bergerak di manufaktur atau produksi barang plastik sendiri. Thailand mengekspor berbagai jenis resin plastik seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), dan polyvinyl chloride (PVC) yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kemasan, pipa, komponen otomotif, hingga produk rumah tangga.
Harga resin plastik Thailand cukup kompetitif dibanding membeli dari distributor lokal, terutama jika kamu membeli dalam volume yang cukup besar. Untuk UMKM yang produksinya sudah berjalan stabil, mengimpor langsung bisa memangkas biaya bahan baku secara signifikan.
Kategori ini mencakup lembaran plastik (plastic sheet), film plastik, pipa plastik, dan berbagai produk yang sudah berbentuk tapi masih memerlukan proses lanjutan sebelum menjadi produk akhir. Banyak UMKM yang bergerak di bidang kemasan, percetakan, atau konstruksi yang mengimpor produk kategori ini dari Thailand.
Keunggulan Thailand di segmen ini adalah konsistensi kualitas dan ketersediaan dalam jumlah besar. Produsen Thailand sudah terbiasa melayani buyer dari berbagai negara, sehingga standar produknya cukup terjaga dan mudah dikomunikasikan spesifikasinya.
Baca Juga: Komoditi Barang Impor dari Thailand ke Indonesia
Selain bahan baku dan produk setengah jadi, Thailand juga mengekspor produk plastik siap pakai dalam jumlah besar, seperti wadah plastik, peralatan dapur plastik, mainan, aksesori plastik untuk furnitur, dan komponen plastik untuk industri elektronik. Produk-produk ini banyak dicari oleh pedagang grosir dan reseller yang ingin menjualnya langsung ke konsumen akhir.
Untuk UMKM yang bergerak di perdagangan, kategori ini paling mudah dimulai karena tidak memerlukan proses produksi lanjutan. Kamu tinggal impor, labelkan jika perlu, lalu distribusikan.
Menemukan supplier yang tepat adalah fondasi dari proses impor yang sukses. Supplier yang tidak terpercaya bisa menyebabkan masalah mulai dari kualitas produk yang tidak sesuai, keterlambatan pengiriman, hingga kerugian finansial yang tidak kecil.
Platform seperti Alibaba, Global Sources, dan ThaiTrade.com bisa menjadi titik awal yang efisien untuk mencari supplier plastik di Thailand. ThaiTrade.com secara khusus dikelola oleh Departemen Promosi Ekspor Thailand (DITP) dan memuat daftar eksportir Thailand yang sudah terverifikasi, termasuk di sektor plastik dan petrokimia.
Saat mencari di platform B2B, gunakan kata kunci spesifik sesuai jenis plastik yang kamu butuhkan, misalnya "PP resin supplier Thailand" atau "plastic packaging manufacturer Bangkok". Filter hasil pencarian berdasarkan jumlah transaksi, rating, dan tahun berdiri supplier untuk menyaring kandidat yang paling terpercaya.
Baca Juga: 7 Marketplace Terbaik untuk Belanja Grosir dari Luar Negeri
Thailand rutin menggelar pameran industri plastik dan petrokimia, salah satunya adalah Propak Asia yang diadakan setiap tahun di Bangkok. Pameran semacam ini adalah kesempatan emas untuk bertemu langsung dengan produsen, melihat sampel produk, dan membangun relasi bisnis yang lebih solid dibanding sekadar komunikasi online.
Jika kamu belum siap untuk menghadiri pameran di Thailand, beberapa pameran impor-ekspor di Indonesia seperti Trade Expo Indonesia juga kerap mengundang ekshibitor dari Thailand. Ini bisa jadi alternatif yang lebih terjangkau untuk pertama kali melakukan penjajakan.
Setelah menemukan kandidat supplier, jangan langsung melakukan pemesanan besar. Minta sampel produk terlebih dahulu untuk mengecek kualitas, minta dokumen legalitas perusahaan seperti business registration certificate, dan cari referensi dari buyer lain jika memungkinkan.
Komunikasi yang responsif dan transparan dari pihak supplier adalah sinyal positif. Supplier yang profesional tidak akan keberatan memberikan sampel, menjelaskan detail spesifikasi produk, dan mendiskusikan skema pembayaran dengan terbuka.
Baca Juga: 10 Tips Aman Belanja Grosir dari Luar Negeri
Setelah supplier ditemukan dan deal harga disepakati, proses impor dimulai. Ini bagian yang paling teknis, tapi bisa dipelajari dengan baik bahkan oleh importir pemula.
Untuk mengimpor barang secara resmi ke Indonesia, kamu memerlukan Angka Pengenal Importir (API). Ada dua jenis API: API-U untuk importir umum yang mengimpor barang untuk diperdagangkan, dan API-P untuk importir produsen yang mengimpor bahan baku untuk keperluan produksi sendiri.
Selain API, beberapa jenis produk plastik mungkin memerlukan izin tambahan dari Kementerian Perindustrian atau lembaga terkait, tergantung klasifikasi HS Code produk yang kamu impor. Pastikan kamu sudah mengecek regulasi terbaru sebelum memulai proses impor.
Dalam perdagangan internasional, ada dua skema yang paling umum digunakan: FOB (Free on Board) dan CIF (Cost, Insurance, and Freight). Pada skema FOB, kamu sebagai importir bertanggung jawab mengurus pengiriman dan asuransi dari pelabuhan asal, sementara pada CIF semua itu sudah diurus dan ditanggung oleh supplier hingga barang tiba di pelabuhan tujuan.
Untuk importir pemula, skema CIF biasanya lebih mudah karena lebih sedikit hal yang perlu diurus secara mandiri. Namun untuk importir yang sudah berpengalaman dan punya relasi freight forwarder yang baik, FOB seringkali lebih menguntungkan secara biaya.
Dokumen adalah kunci kelancaran proses bea cukai. Dokumen utama yang umumnya dibutuhkan meliputi Commercial Invoice, Packing List, Bill of Lading atau Airway Bill, Certificate of Origin, dan dokumen teknis produk seperti Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk beberapa jenis bahan kimia plastik tertentu.
Kesalahan atau ketidaklengkapan dokumen bisa menyebabkan barang ditahan di bea cukai, yang artinya biaya tambahan dan keterlambatan yang tidak perlu. Jika kamu belum familiar dengan proses ini, menggunakan jasa custom clearance adalah pilihan yang sangat disarankan untuk tahap awal.
Baca Juga: Mau Impor? Dokumen Impor Barang Berikut Harus Ada
Biaya impor bukan hanya harga produk dari supplier. Ada bea masuk yang besarnya tergantung klasifikasi HS Code, ada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor, ada biaya freight dan asuransi jika pakai skema FOB, ada biaya jasa custom clearance, dan ada biaya handling di pelabuhan tujuan.
Kalkulasi semua komponen ini sebelum menyepakati harga dengan supplier. Dengan begitu, kamu bisa menentukan harga jual yang realistis dan memastikan margin keuntungan tetap terjaga.
Setelah semua proses impor dipahami, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah bagaimana cara membayar supplier di Thailand dengan aman dan efisien.
Metode Telegraphic Transfer (TT) adalah yang paling umum digunakan dalam transaksi B2B internasional. Kamu mengirimkan uang langsung ke rekening bank supplier melalui jaringan SWIFT.
Prosesnya terbilang aman karena ada jejak transaksi yang jelas, tapi biayanya bisa cukup besar jika menggunakan bank konvensional karena ada biaya SWIFT, potensi correspondent bank fee, dan markup kurs yang tidak selalu transparan.
Letter of Credit adalah instrumen pembayaran yang melibatkan bank sebagai penjamin transaksi. Bank akan memastikan pembayaran kepada supplier hanya dilakukan setelah barang dikirim dan semua dokumen yang disyaratkan terpenuhi. Metode ini memberikan perlindungan terbaik bagi kedua pihak, tapi prosesnya lebih kompleks dan biayanya lebih tinggi dibanding TT biasa.
LC lebih cocok untuk transaksi dengan nilai besar atau dengan supplier baru yang belum sepenuhnya kamu percaya. Untuk transaksi rutin dengan supplier yang sudah terbukti, TT biasanya lebih efisien.
Untuk UMKM yang butuh solusi transfer ke Thailand dengan biaya lebih terkendali, Flip Globe adalah alternatif yang semakin banyak digunakan. Biaya transfer mulai dari Rp25.000, kurs transparan tanpa markup tersembunyi, dan prosesnya sepenuhnya digital lewat aplikasi Flip tanpa perlu datang ke bank.
Flip Globe mendukung transfer ke rekening bank di Thailand, sehingga kamu bisa membayar supplier langsung ke rekening mereka dengan proses yang jauh lebih simpel dibanding transfer SWIFT konvensional. Untuk pembayaran uang muka atau pelunasan order dalam jumlah menengah, ini adalah opsi yang sangat praktis dan hemat.
Baca Juga: UMKM Internasional Pakai Flip Globe, Ini Keuntungannya
Impor plastik dari Thailand bukan monopoli perusahaan besar. Dengan pemahaman yang cukup soal jenis produk, cara mencari supplier yang tepercaya, proses bea cukai, dan metode pembayaran yang efisien, pelaku UMKM pun bisa memulai dan menjalankannya secara konsisten.
Langkah pertama yang paling penting adalah riset: kenali produk yang kamu butuhkan, pelajari regulasi impor yang berlaku, dan jangan terburu-buru melakukan order besar sebelum yakin dengan suppliernya. Untuk urusan pembayaran ke supplier Thailand, gunakan layanan yang transparan dan efisien seperti Flip Globe agar tidak ada biaya yang menggerus margin bisnismu secara tidak perlu.
Share