
Flip Globe | 15 Juni 2026
By : Anonim
Filipina sering terlewat dari radar importir Indonesia yang lebih sering melirik China, Thailand, atau Malaysia. Padahal, ada beberapa kategori produk dari Filipina yang punya potensi bisnis cukup menarik di pasar Indonesia, dengan keunggulan kualitas dan kedekatan geografis sebagai sesama negara ASEAN yang bisa jadi keuntungan tersendiri.
Kalau kamu sedang mempertimbangkan untuk diversifikasi sumber impor, atau memang punya ketertarikan pada produk-produk asal Filipina, artikel ini akan membantu kamu memahami apa saja yang bisa diimpor, regulasi yang berlaku, hingga tips agar biaya keseluruhan bisa lebih efisien.
Hubungan dagang Indonesia dan Filipina sudah berlangsung lama dan terus berkembang. Berdasarkan data perdagangan bilateral kedua negara, Indonesia mengimpor berbagai komoditas dari Filipina yang mencakup produk pertanian, elektronik, hingga bahan baku industri.
Kedekatan geografis dan kesamaan iklim membuat beberapa komoditas pertanian Filipina punya keunggulan kualitas tertentu yang sulit didapat dari negara lain. Di sisi lain, sektor elektronik dan komponen teknologi Filipina juga terus berkembang dan mulai menarik minat importir dari berbagai negara termasuk Indonesia.
Sebagai sesama anggota ASEAN, perdagangan antara Indonesia dan Filipina juga mendapatkan keuntungan dari skema AFTA yang memungkinkan tarif bea masuk yang lebih rendah untuk berbagai kategori produk. Kerangka perjanjian ini menjadikan impor dari Filipina secara struktural lebih menguntungkan dibanding impor dari negara di luar ASEAN, terutama kalau kamu sudah memahami cara memanfaatkan Certificate of Origin Form D dengan benar.
Baca Juga: Apa Itu Importir? Pengertian dan Jenis-jenisnya
Produk Potensial untuk Diimpor dari Filipina
Ada beberapa kategori produk dari Filipina yang paling sering menjadi komoditas impor ke Indonesia dan punya potensi bisnis yang layak dipertimbangkan.
Filipina adalah salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Berbagai produk turunan kelapa seperti minyak kelapa murni (virgin coconut oil), santan kelapa, arang tempurung kelapa, dan serat sabut kelapa banyak diekspor dari Filipina ke berbagai negara termasuk Indonesia.
Meski Indonesia juga produsen kelapa, beberapa produk olahan kelapa Filipina punya standar kualitas ekspor yang tinggi dan diakui secara internasional.
Filipina punya basis industri elektronik yang cukup kuat, terutama di kawasan-kawasan industri di sekitar Manila dan Cebu. Berbagai komponen elektronik, semikonduktor, dan perangkat teknologi diproduksi di sana untuk pasar ekspor.
Bagi importir yang bergerak di sektor elektronik, Filipina bisa jadi alternatif sumber yang menarik untuk komponen tertentu.
Selain kelapa, Filipina juga mengekspor berbagai produk pertanian tropis seperti mangga (terutama varietas Carabao yang terkenal manis), pisang, nanas, dan berbagai buah tropis lainnya.
Untuk importir di sektor makanan dan minuman, produk-produk ini bisa menjadi komoditas yang menarik terutama jika ada permintaan pasar yang spesifik.
Filipina dikenal dengan berbagai kerajinan tangan berkualitas yang menggunakan bahan-bahan alami seperti anyaman bambu, rotan, dan serat alam lainnya. Produk furnitur rotan dan anyaman Filipina sudah cukup dikenal di pasar internasional dan bisa menjadi peluang bagi importir yang bergerak di sektor dekorasi dan furnitur.
Baca Juga: Barang Impor Terlaris di Indonesia, Ide untuk Reseller
Sebelum mulai mengimpor dari Filipina, memahami regulasi yang berlaku adalah langkah yang tidak bisa dilewati.
Sebagai sesama negara ASEAN, produk dari Filipina yang dilengkapi dengan Certificate of Origin Form D bisa mendapatkan preferensi tarif AFTA. Artinya, bea masuk untuk banyak kategori produk bisa diturunkan secara signifikan bahkan hingga 0%. Ini adalah salah satu keuntungan terbesar impor dari negara ASEAN dibanding impor dari luar kawasan.
Pastikan suppliermu di Filipina bisa menerbitkan Form D yang valid dari otoritas yang berwenang di Filipina agar kamu bisa memanfaatkan preferensi tarif ini secara maksimal.
Selain bea masuk, ada PPN impor 11% dan PPh Pasal 22 yang perlu diperhitungkan. Untuk importir yang sudah memiliki Angka Pengenal Impor (API), tarif PPh Pasal 22 adalah 2,5% dari nilai impor. Tanpa API, tarifnya naik menjadi 7,5%.
Menghitung total landed cost sebelum memutuskan untuk order sangat penting agar margin bisnismu tetap sehat. Jangan hanya memperhitungkan harga barang dan ongkos kirim, tapi sertakan seluruh komponen pajak dan biaya kepabeanan dalam kalkulasimu.
Baca Juga: Cara Menghitung Biaya Impor Barang ke Indonesia
Dokumen standar yang dibutuhkan untuk impor dari Filipina mencakup Commercial Invoice, Packing List, Bill of Lading atau Airway Bill, Certificate of Origin Form D, dan Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Untuk produk tertentu seperti makanan, kosmetik, atau produk kesehatan, mungkin ada izin tambahan dari BPOM atau instansi terkait lainnya.
Seperti impor dari negara mana pun, ada beberapa risiko yang perlu kamu pertimbangkan dan siapkan strateginya sejak awal.
Terutama untuk supplier baru yang belum pernah kamu verifikasi langsung, kualitas produk bisa menjadi isu. Selalu minta sampel sebelum order dalam jumlah besar, dan pertimbangkan melakukan inspeksi pihak ketiga untuk order yang nilainya signifikan.
Dibanding China atau Malaysia, jumlah platform B2B dan direktori supplier Filipina yang terverifikasi untuk pasar Indonesia masih lebih terbatas. Ini membuat proses pencarian supplier yang tepercaya membutuhkan waktu dan usaha lebih.
Meski secara geografis tidak terlalu jauh, rute pengiriman dari Filipina ke Indonesia tidak selalu memiliki frekuensi kapal atau penerbangan kargo yang sebanyak rute dari China atau Malaysia. Ini bisa memengaruhi waktu pengiriman dan fleksibilitas jadwal.
Baca Juga: Mau Impor? Dokumen Impor Barang Berikut Harus Ada
Kalau kamu ingin impor dari Filipina tetap untung, kamu nggak bisa cuma fokus ke harga barang. Yang juga perlu kamu perhatikan adalah biaya bea masuk, ongkos kirim, metode pembayaran, sampai cara kamu memilih supplier di awal. Dari situ, kamu bisa menekan biaya yang sering terasa kecil per transaksi, tapi dampaknya besar kalau dijumlahkan terus menerus.
Kalau produk yang kamu impor memenuhi syarat skema ASEAN Free Trade Area atau AFTA, kamu bisa memanfaatkan Form D untuk membantu menekan bea masuk. Ini salah satu langkah yang paling berdampak karena potensi penghematannya bisa cukup besar, terutama kalau kamu rutin impor dalam jumlah yang lumayan.
Karena itu, kamu sebaiknya pastikan dari awal apakah supplier di Filipina memahami prosedur penerbitan Form D dan bisa menyiapkannya sebelum barang dikirim. Kalau dokumen ini terlambat atau tidak tersedia, kamu bisa kehilangan peluang penghematan yang seharusnya bisa kamu dapatkan.
Kalau volume order kamu belum cukup untuk satu kontainer penuh, kamu bisa mempertimbangkan pengiriman LCL atau less than container load. Dengan cara ini, barang kamu akan digabung dengan pengiriman importir lain dalam rute yang sama, jadi biaya logistiknya bisa terasa lebih ringan dibanding memaksakan pengiriman besar sejak awal.
Strategi ini cocok kalau kamu masih tahap uji pasar atau baru mulai bangun hubungan dengan supplier. Jadi, kamu tetap bisa jalan tanpa harus menanggung beban biaya pengiriman yang terlalu besar di awal.
Biaya transfer internasional sering kelihatan kecil kalau dilihat per transaksi, padahal dalam jangka panjang nilainya bisa cukup menggerus margin. Karena itu, kamu juga perlu memperhatikan cara bayar ke supplier, bukan cuma fokus ke harga barang dan ongkir.
Kalau kamu rutin bayar supplier di Filipina, selisih kurs dan biaya transfer yang sedikit lebih tinggi bisa menumpuk sepanjang tahun. Jadi, semakin efisien metode pembayaran yang kamu pilih, semakin besar juga peluang kamu menjaga margin tetap sehat.
Kalau kamu baru pertama kali kerja sama dengan supplier dari Filipina, sebaiknya jangan langsung masuk ke order besar. Kamu bisa mulai dari jumlah yang lebih kecil dulu untuk melihat kualitas barang, ketepatan produksi, kecepatan respons, dan apakah supplier tersebut benar benar bisa diandalkan.
Dengan cara ini, kamu bisa membangun kepercayaan secara bertahap sambil mengurangi risiko. Kalau hasil awalnya memuaskan, baru kamu bisa lebih percaya diri untuk meningkatkan volume order di tahap berikutnya.
Baca Juga: Butuh Kirim Uang ke Filipina? Pakai Flip Globe!
Kalau kamu rutin melakukan pembayaran ke supplier di Filipina, kamu juga perlu memikirkan efisiensi dari sisi transfer uangnya. Di sinilah kamu bisa mempertimbangkan Flip Globe untuk transfer internasional dengan kurs yang transparan dan biaya yang sudah terlihat sebelum kamu konfirmasi transaksi.
Kamu bisa langsung cek berapa Peso Filipina atau PHP yang akan diterima supplier dari jumlah Rupiah yang kamu kirim, jadi perhitungannya terasa lebih jelas. Prosesnya juga sepenuhnya digital lewat aplikasi Flip, jadi kamu nggak perlu repot ke kantor bank setiap kali ingin bayar supplier. Kalau pembayaran ke Filipina dilakukan berkala, efisiensi seperti ini biasanya akan makin terasa dalam jangka panjang.
Share