
Flip Globe | 19 Mei 2026
Oleh : Anonim
Thailand adalah salah satu pusat industri otomotif terbesar di Asia Tenggara. Negara ini sudah lama dikenal sebagai basis produksi kendaraan bermotor untuk merek-merek besar dunia, dan ekosistem industri yang tumbuh di sekitarnya menghasilkan suplai sparepart dalam jumlah besar dengan kualitas yang terjaga. Tidak heran kalau import sparepart Thailand menjadi pilihan yang semakin diminati oleh pelaku bisnis otomotif dan bengkel di Indonesia.
Tapi seperti halnya impor produk lain, ada proses yang perlu dipahami, tantangan yang perlu diantisipasi, dan strategi yang bisa diterapkan agar biaya impor tetap efisien. Panduan ini akan membantu kamu memulai dari titik yang tepat.
Thailand memproduksi dan mengekspor berbagai jenis komponen kendaraan, baik untuk segmen roda dua maupun roda empat. Sebelum memulai impor, kenali dulu kategori produk mana yang paling relevan dengan kebutuhan bisnismu.
Komponen kendaraan roda empat adalah salah satu kategori ekspor terbesar Thailand ke Indonesia. Produk yang paling sering diimpor mencakup filter oli, filter udara, kampas rem, bearing roda, timing belt, busi, dan berbagai komponen mesin lainnya.
Banyak dari produk ini diproduksi oleh pabrik Thailand yang sudah memiliki sertifikasi OEM (Original Equipment Manufacturer) untuk merek-merek Jepang seperti Toyota, Honda, dan Isuzu yang memang banyak dirakit di Thailand.
Untuk bengkel atau distributor sparepart yang ingin menawarkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, segmen ini sangat menjanjikan. Kualitas produk Thailand di kategori ini umumnya sudah teruji dan diterima pasar Indonesia.
Industri sepeda motor Thailand juga sangat maju, didukung oleh kehadiran pabrik Honda, Yamaha, dan Kawasaki di sana.
Sparepart yang diimpor dari Thailand untuk segmen ini antara lain piston kit, rantai keteng, kampas kopling, ban dalam, lampu, dan aksesori motor aftermarket yang punya pasar besar di Indonesia.
Produk aftermarket Thailand untuk segmen sepeda motor cukup dikenal kualitasnya di pasar Indonesia, terutama untuk pengguna yang mencari alternatif lebih terjangkau dibanding produk original dengan kualitas yang tidak terpaut jauh.
Baca Juga: Komoditi Barang Impor dari Thailand ke Indonesia
Selain sparepart kendaraan konsumen, Thailand juga mengekspor komponen mesin untuk keperluan industri seperti bearing industri, seal, gasket, belt conveyor, dan berbagai komponen hidrolik dan pneumatik.
Segmen ini relevan bagi importir yang melayani kebutuhan pabrik, pertambangan, atau sektor agrikultur yang membutuhkan suku cadang mesin dalam jumlah rutin.
Permintaan untuk kategori ini cenderung stabil karena sifatnya yang berulang. Pabrik dan fasilitas industri selalu membutuhkan suku cadang pengganti untuk menjaga mesin tetap beroperasi, sehingga impor rutin dari Thailand bisa menjadi bisnis yang relatif predictable.
Proses impor sparepart melibatkan beberapa tahap yang harus dilalui secara berurutan. Melewati salah satu tahap atau mempersiapkannya dengan tidak matang bisa berdampak pada keterlambatan dan biaya tambahan yang tidak perlu.
Langkah pertama adalah memastikan kamu tahu persis produk apa yang ingin diimpor dan apa HS Code-nya. HS Code (Harmonized System Code) adalah kode klasifikasi barang yang digunakan dalam perdagangan internasional dan menentukan besarnya bea masuk yang harus dibayarkan.
Sparepart otomotif umumnya masuk dalam Chapter 87 atau Chapter 84 pada sistem HS, tapi detailnya bisa berbeda tergantung jenis komponen. Kesalahan menentukan HS Code bisa berujung pada kewajiban membayar bea masuk yang berbeda dari yang sudah dianggarkan, atau bahkan masalah di bea cukai. Konsultasikan dengan freight forwarder atau konsultan impor jika belum yakin.
Cari supplier sparepart Thailand melalui platform B2B seperti Alibaba, Global Sources, atau Thai Trade (thaitrade.com) yang dikelola langsung oleh pemerintah Thailand. Saat menyeleksi supplier, perhatikan tiga hal utama: berapa lama mereka sudah beroperasi, apakah mereka memiliki sertifikasi produk yang relevan, dan bagaimana respons mereka terhadap pertanyaan teknis soal produk.
Jangan langsung pesan dalam jumlah besar untuk order pertama. Mulai dengan pemesanan sampel atau order percobaan dalam jumlah kecil untuk memverifikasi kualitas produk secara langsung sebelum berkomitmen ke volume yang lebih besar.
Baca Juga: 10 Tips Aman Belanja Grosir dari Luar Negeri
Setelah supplier dipilih, negosiasikan harga termasuk skema pengiriman yang akan digunakan. Dua pilihan utama adalah FOB (Free on Board) di mana kamu mengurus pengiriman dari pelabuhan asal, dan CIF (Cost, Insurance, Freight) di mana supplier mengurus semuanya hingga pelabuhan tujuan.
Untuk importir yang baru memulai, skema CIF biasanya lebih mudah dikelola karena lebih sedikit koordinasi yang harus dilakukan secara mandiri. Namun jika kamu sudah punya freight forwarder andalan, skema FOB sering kali lebih menguntungkan secara total biaya.
Dokumen adalah kunci kelancaran proses bea cukai. Untuk impor sparepart, dokumen yang umumnya dibutuhkan meliputi Commercial Invoice, Packing List, Bill of Lading, Certificate of Origin Form D (untuk mendapatkan preferensi tarif ASEAN-AFTA), dan dokumen teknis produk jika dipersyaratkan.
Certificate of Origin Form D khusus untuk produk dari negara ASEAN dan memungkinkan kamu mendapatkan tarif bea masuk yang lebih rendah dibanding tarif normal, karena Thailand dan Indonesia sama-sama anggota ASEAN. Pastikan dokumen ini diminta dari supplier sejak awal.
Baca Juga: Mau Impor? Dokumen Impor Barang Berikut Harus Ada
Setelah barang tiba di pelabuhan Indonesia, proses bea cukai dimulai. Kamu perlu mengajukan Pemberitahuan Impor Barang (PIB) melalui sistem INSW (Indonesia National Single Window) dan membayar bea masuk serta pajak impor yang berlaku.
Jika proses ini terasa terlalu kompleks untuk diurus sendiri, menggunakan jasa custom clearance adalah pilihan yang sangat wajar, terutama di awal. Biaya jasanya biasanya sepadan dengan waktu dan risiko kesalahan yang bisa dihindari.
Mengetahui potensi hambatan sejak awal membantu kamu mempersiapkan strategi yang lebih matang sebelum memulai impor.
Tidak semua sparepart yang terlihat sama secara fisik memiliki spesifikasi yang identik.
Beberapa produk aftermarket Thailand mungkin memiliki sedikit perbedaan dimensi atau material dibanding produk OEM, yang bisa berpengaruh pada performa atau usia pakai. Ini penting diantisipasi terutama jika kamu menjual ke konsumen yang sensitif terhadap kualitas.
Solusinya adalah selalu meminta spesifikasi teknis lengkap dari supplier dan, jika memungkinkan, meminta uji coba produk di lapangan sebelum order dalam skala besar. Relasi yang baik dengan supplier terpercaya juga membantu kamu mendapatkan produk yang konsisten dari waktu ke waktu.
Transaksi dengan supplier Thailand dilakukan dalam mata uang Baht (THB) atau kadang Dolar AS (USD). Fluktuasi kurs bisa mempengaruhi total biaya yang kamu keluarkan, terutama untuk kontrak jangka panjang yang harganya disepakati di awal.
Selain itu, biaya transfer internasional via bank konvensional bisa cukup besar jika tidak dipilih dengan cermat. Ada markup kurs, biaya SWIFT, dan potensi correspondent bank fee yang bisa menggerus margin secara diam-diam.
Pengiriman dari Thailand ke Indonesia melibatkan jalur laut yang biasanya memakan waktu 5 hingga 14 hari tergantung port of loading dan port of discharge yang digunakan. Keterlambatan bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari jadwal kapal yang berubah, cuaca, hingga antrian di bea cukai.
Antisipasi ini dengan merencanakan jadwal impor jauh sebelum stok habis dan membangun buffer stok yang cukup agar operasional bisnis tidak terganggu jika ada keterlambatan.
Thailand dan Indonesia adalah anggota ASEAN, yang berarti produk Thailand yang memenuhi syarat bisa mendapatkan tarif bea masuk yang lebih rendah atau bahkan nol persen melalui skema AFTA.
Kuncinya adalah memastikan supplier menyertakan Certificate of Origin Form D yang membuktikan produk memenuhi aturan asal barang ASEAN.
Banyak importir pemula yang tidak tahu soal ini dan akhirnya membayar bea masuk penuh yang seharusnya bisa dihemat. Cukup minta dokumen yang tepat dari supplier, dan manfaat tarifnya langsung bisa kamu nikmati.
Jika volume ordermu belum cukup besar untuk memenuhi satu kontainer penuh (FCL), gunakan layanan LCL (Less than Container Load) di mana muatanmu digabung dengan muatan importir lain dalam satu kontainer. Biaya per unit barang bisa jauh lebih rendah dibanding pengiriman individual yang tidak efisien.
Seiring berkembangnya bisnis dan volume order yang meningkat, kamu bisa beralih ke FCL yang biasanya menawarkan biaya per unit lebih murah lagi.
Biaya pembayaran ke supplier bisa ditekan dengan memilih metode transfer yang tepat.
Flip Globe memungkinkan transfer ke rekening bank Thailand dengan biaya mulai dari Rp25.000 dan kurs yang transparan tanpa markup tersembunyi, jauh lebih efisien dibanding transfer SWIFT konvensional yang biayanya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per transaksi.
Untuk pembayaran uang muka atau pelunasan order, penghematan dari biaya transfer yang lebih rendah akan terasa nyata apalagi jika kamu melakukan beberapa transaksi dalam sebulan.
Baca Juga: UMKM Internasional Pakai Flip Globe, Ini Keuntungannya
Memulai impor sparepart dari Thailand tidak harus langsung dalam skala besar. Banyak importir sukses yang memulai dengan order percobaan kecil, membangun relasi dengan satu atau dua supplier terpercaya, lalu secara bertahap meningkatkan volume seiring kepercayaan diri dan pemahaman pasar yang berkembang.
Yang paling penting adalah memulai dengan persiapan yang matang: pahami produk yang kamu impor, pastikan dokumen lengkap, dan pilih metode pembayaran yang efisien. Untuk urusan transfer ke supplier Thailand, Flip Globe siap membantu prosesnya jadi lebih simpel dan hemat langsung dari aplikasi.
Bagikan
