
Keuangan | 19 Agustus 2026
Oleh : Anonim
Malaysia kerap masuk dalam daftar negara yang dipertimbangkan WNI untuk melanjutkan pendidikan maupun tinggal dalam jangka panjang. Pilihan kotanya beragam, mulai dari Kuala Lumpur, yang menjadi pusat bisnis, hingga Selangor, Penang, Johor Bahru, dan kota-kota lain dengan karakter biaya hidup yang berbeda.
Dibandingkan dengan beberapa negara tujuan studi di kawasan Asia-Pasifik, biaya hidup di Malaysia masih dapat disesuaikan dengan cukup fleksibel. Pilihan asrama mahasiswa, kamar bersama, transportasi publik, hingga tempat makan lokal membuat pengeluaran bulanan bisa ditekan tanpa harus mengorbankan kebutuhan utama. Education Malaysia juga menempatkan biaya hidup sebagai salah satu aspek penting yang perlu direncanakan oleh mahasiswa internasional sebelum memulai studi.
Bagi mahasiswa Indonesia, Malaysia menawarkan berbagai universitas dan program pendidikan untuk mahasiswa internasional. Education Malaysia Global Services atau EMGS, lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, juga menyediakan sistem terpusat untuk berbagai kebutuhan mahasiswa asing, mulai dari pengurusan visa hingga informasi akomodasi.
Faktor lain yang menarik adalah pilihan kota dengan tingkat pengeluaran yang cukup beragam. Kuala Lumpur memang menjadi salah satu kota dengan biaya tertinggi, tetapi tinggal di kawasan seperti Cyberjaya, Shah Alam, atau kota lain dapat menghasilkan kebutuhan bulanan yang berbeda. Wise, misalnya, memperkirakan pengeluaran satu orang di Malaysia pada 2026 sekitar £434 per bulan di luar sewa, sedangkan di Kuala Lumpur berada di sekitar £464.
Artinya, sebelum menentukan anggaran, lokasi tempat tinggal perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. Tinggal dekat pusat Kuala Lumpur tentu memberikan konsekuensi finansial yang berbeda dibandingkan dengan tinggal dekat kampus di kota satelit.

Tempat tinggal biasanya menjadi salah satu pengeluaran terbesar. Namun, biaya sewa kos di Malaysia untuk WNI bisa sangat bervariasi karena tersedia banyak pilihan, mulai dari asrama kampus, kamar bersama, studio, hingga apartemen pribadi.
Education Malaysia menyebutkan bahwa banyak perguruan tinggi menyediakan akomodasi di dalam kampus bagi mahasiswa internasional. Pilihan ini umumnya sudah dilengkapi fasilitas dasar dan dapat menjadi alternatif sebelum mempertimbangkan tempat tinggal di luar kampus.
Untuk Kuala Lumpur, gambaran pasar akomodasi mahasiswa pada 2026 menunjukkan kisaran berikut.
| Jenis tempat tinggal | Estimasi per bulan |
| Shared room | Rp 2,2 juta - Rp 4,4 juta |
| Student dormitory | Rp 3,5 juta - Rp 7,9 juta |
| Studio | Rp 5,3 juta - Rp 11 juta |
| Apartemen 1 kamar | Rp 7,9 juta - Rp 15,4 juta |
Harga tersebut tetap sangat bergantung pada lokasi dan fasilitas. Data listing PropertyGuru pada Agustus 2026, misalnya, masih menunjukkan kamar di Kuala Lumpur sekitar RM600–RM1.000 per bulan atau kurang lebih Rp2,6 juta–Rp4,4 juta.
Sementara itu, apabila ingin tinggal sendiri, Numbeo mencatat rata-rata apartemen satu kamar di pusat Kuala Lumpur sekitar RM2.600 atau Rp11,4 juta per bulan. Di luar pusat kota, rata-ratanya sekitar RM1.544 atau Rp6,8 juta.
Pengeluaran makan relatif lebih mudah disesuaikan daripada sewa. Banyaknya restoran lokal, food court, kedai mamak, dan warung membuat pilihan makanan tersedia dalam berbagai tingkat harga.
Anggapan bahwa biaya makan di Malaysia murah memang bisa berlaku apabila terbiasa membeli makanan lokal. Numbeo mencatat satu kali makan di restoran sederhana rata-rata sekitar RM15 secara nasional atau setara Rp66 ribu. Untuk Kuala Lumpur, rata-ratanya sedikit lebih tinggi, sekitar RM20 atau Rp88 ribu per porsi.
Jika makan di luar dua hingga tiga kali sehari, pengeluaran tentu akan cepat bertambah. Karena itu, mahasiswa atau pekerja yang ingin lebih hemat dapat mengombinasikan makan di kedai lokal dengan memasak sendiri.
Sebagai gambaran, beberapa bahan makanan memang relatif terjangkau, tetapi secara rata-rata harga groceries Malaysia justru lebih tinggi daripada Indonesia. MyLifeElsewhere mencatat groceries di Malaysia sekitar 19,6% lebih mahal dibandingkan Indonesia.
Untuk kebutuhan makan sederhana, anggaran sekitar Rp2,5 juta-Rp4 juta per bulan dapat digunakan sebagai titik awal. Jumlahnya dapat meningkat apabila lebih sering makan di pusat perbelanjaan, restoran, atau menggunakan layanan pesan antar.
Bagi yang tinggal di Kuala Lumpur dan sekitarnya, transportasi publik seperti MRT, LRT, monorail, bus, dan KTM dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Education Malaysia menyebut tarif transportasi publik bagi mahasiswa dapat berkisar sekitar US$0,20–US$1,50 per perjalanan, bergantung pada moda serta jarak yang ditempuh.
Sementara itu, data Numbeo menunjukkan tarif transportasi lokal rata-rata di Malaysia sekitar RM3 sekali jalan atau kurang lebih Rp13 ribu. Monthly public transport pass berada di sekitar RM50 atau sekitar Rp220 ribu per bulan, meski kebutuhan aktual bergantung pada rute dan frekuensi perjalanan.
Transportasi berbasis aplikasi dapat menjadi pilihan saat transportasi umum kurang praktis, tetapi penggunaan yang terlalu sering tentu membuat anggaran meningkat. Tinggal di kawasan yang terhubung langsung dengan transportasi publik biasanya lebih efisien dalam jangka panjang.
Bagi mahasiswa, pilihan tempat tinggal menjadi faktor yang paling menentukan. Tinggal di asrama atau berbagi kamar dapat membuat biaya hidup di Malaysia untuk mahasiswa Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan menyewa apartemen sendiri.
Sebagai simulasi, mahasiswa yang menyewa shared room sekitar Rp2,2 juta–Rp4,4 juta, mengalokasikan Rp2,5 juta–Rp4 juta untuk makan, serta menyiapkan sekitar Rp500 ribu–Rp1 juta untuk transportasi, internet, telepon seluler, dan kebutuhan sehari-hari dapat membutuhkan sekitar Rp6 juta–Rp10 juta per bulan.
Angka tersebut merupakan estimasi perencanaan, bukan standar resmi, dan belum mencakup uang kuliah, visa, asuransi, maupun kebutuhan akademik. Mahasiswa internasional juga perlu memperhitungkan biaya khusus terkait Student Pass. Jadwal biaya EMGS terbaru, misalnya, mencantumkan biaya pemrosesan, pemeriksaan kesehatan, iKad, dan asuransi yang terpisah dari biaya hidup sehari-hari.
Untuk mahasiswa yang tinggal sendiri di apartemen atau memiliki gaya hidup lebih aktif, kebutuhan bulanan tentu dapat melewati Rp10 juta.
Kuala Lumpur membutuhkan anggaran yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah kota Malaysia lainnya. Numbeo memperkirakan pengeluaran seorang individu sekitar RM2.477,7 per bulan di luar sewa, atau setara Rp10,9 juta dengan kurs yang digunakan dalam artikel ini.
Jika ditambah apartemen satu kamar di luar pusat kota sekitar Rp6,8 juta, maka biaya hidup di Kuala Lumpur per bulan bagi seseorang yang tinggal sendiri dapat mendekati Rp17 juta–Rp19 juta.
Sebaliknya, seseorang yang tinggal di kamar bersama dan menjalani gaya hidup lebih hemat dapat menekan kebutuhan hingga sekitar Rp8 juta–Rp12 juta per bulan. Perbedaan inilah yang membuat jenis tempat tinggal lebih penting daripada sekadar lokasi kotanya.
Bagaimana dengan biaya hidup di Malaysia vs Indonesia? Secara rata-rata nasional, sejumlah basis data biaya hidup menunjukkan Malaysia masih lebih mahal.
MyLifeElsewhere memperkirakan Malaysia sekitar 29,3% lebih mahal daripada Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan komponennya, biaya restoran sekitar 41,7% lebih tinggi, groceries 19,6% lebih tinggi, transportasi 26% lebih tinggi, dan hunian sekitar 18,2% lebih tinggi. Data situs tersebut terakhir diperbarui pada Agustus 2026.
Livingcost juga menunjukkan arah yang serupa. Berdasarkan pembaruannya pada Juni 2026, rata-rata biaya hidup satu orang diperkirakan sekitar US$543 di Indonesia dibandingkan dengan US$818 di Malaysia.
| Komponen | Malaysia dibanding Indonesia |
| Biaya keseluruhan | Sekitar 29,3% lebih tinggi |
| Restoran | Sekitar 41,7% lebih tinggi |
| Groceries | Sekitar 19,6% lebih tinggi |
| Transportasi | Sekitar 26% lebih tinggi |
| Hunian | Sekitar 18,2% lebih tinggi |
Namun, perbandingan tersebut harus dibaca sebagai gambaran umum. Data biaya hidup bersifat crowdsourced dan dapat dipengaruhi oleh kota, pola konsumsi, serta metodologi masing-masing platform. Seseorang yang berpindah dari Jakarta ke kota Malaysia yang lebih kecil belum tentu mengalami kenaikan biaya sebesar rata-rata nasional tersebut.
Agar lebih mudah membuat anggaran, berikut simulasi berdasarkan pola hidup yang berbeda.
| Profil | Estimasi per Bulan |
| Mahasiswa dengan asrama/shared room | Rp6 juta-Rp10 juta |
| WNI dengan kamar sewa dan gaya hidup moderat | Rp8 juta-Rp12 juta |
| Tinggal sendiri di luar pusat Kuala Lumpur | Rp15 juta-Rp19 juta |
| Tinggal sendiri di pusat Kuala Lumpur | Rp19 juta-Rp24 juta |
Angka tersebut belum memasukkan biaya kuliah, perjalanan Indonesia–Malaysia, visa, asuransi, maupun pengeluaran besar yang tidak muncul setiap bulan.
Jika ingin lebih hemat, prioritaskan pengeluaran terbesar terlebih dahulu. Memilih tempat tinggal bersama, mencari hunian dekat dengan transportasi umum, membatasi penggunaan ride-hailing, serta memasak beberapa kali dalam seminggu biasanya menghasilkan penghematan lebih signifikan daripada sekadar memangkas pengeluaran kecil.
Memahami biaya hidup di Malaysia sejak awal dapat membantu menentukan berapa dana yang perlu disiapkan setiap bulan. Hal ini semakin penting bagi mahasiswa Indonesia yang masih menerima biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari dari keluarga di Tanah Air.
Untuk memenuhi kebutuhan transfer lintas negara, kamu dapat memanfaatkan Aplikasi Kirim Uang ke Malaysia seperti Flip Globe. Layanan transfer internasional dapat membantu mengirim dana dari Indonesia ke luar negeri secara praktis dengan informasi biaya dan kurs yang transparan.
Besarnya biaya hidup di Malaysia sangat bergantung pada pilihan tempat tinggal dan gaya hidup. Dengan menghitung sewa, makan, transportasi, dan kebutuhan tambahan sejak awal, keuangan selama berada di Malaysia dapat dikelola dengan lebih terencana.
Bagikan
